Popularitas Rossi Dinilai Menomorduakan Pembalap Italia Lain

Rookie MotoGP Harus Adaptasi

Rabu, 04 Januari 2017 | 16:25
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - Siapa tak kenal Valentino Rossi? Popularitasnya di blantika dunia balap motor tidak perlu diragukan. Bahkan, dia menjadi salah satu olahragawan paling tersohor di dunia saat ini. Akibatnya, tidak jarang banyak pebalap, meski punya potensi, terkaburkan perhatiannya lantaran tertutupi nama besar pebalap berkebangsaan Italia berusia 37 tahun tersebut.

Hal ini pulalah yang kadang membuat 'benci' sesama pebalap dari Italia lainnya kepadanya. Ini sebagaimana diungkapkan pebalap MotoGP asal Italia dari tim Octo Pramac Yakhnich, Danilo Petrucci. “Dia (Rossi,red) adalah legenda. Sehingga banyak memiliki penggemar, tidak hanya di Italia, tapi juga di seluruh dunia," kata Petrucci, 26 tahun, dilansir Speedweek.com.

Pembalap yang memulai karier di ajang MotoGP, pada 2012 ini menilai, kenyataan ini membuat malu pebalap Italia lainnya, karena performa mereka langsung redup dengan nama besar Rossi. Semua orang hanya menyukai Valentino. “Jika Anda bisa cukup cepat, mungkin Anda akan dianggap hebat oleh beberapa fans. Karena itulah saya ingin menjadi lebih cepat dan bisa mendekati jarak dengan Valentino. Karier kami sangat berbeda, dia telah memenangkan sembilan gelar juara dunia, sedangkan saya masih harus mengejar kemenangan pertama. Kita lihat saja nanti ke depannya seperti apa,” ungkap Petrucci.

Memang pada balapan motoGP musim lalu, Rossi menempati urutan kedua di bawah salah satu rival beratnya, Marc Marquez. Pebalap Movistar Yamaha itu terpaut 49 poin dari Marquez yang total mengumpulkan 298 poin. Di 2017 ini, Rossi akan bertandem dengan pebalap baru, Maverick Vinales yang musim lalu memperkuat Suzuki. Vinales menggantikan posisi Jorge Lorenzo yang hengkang ke Ducati.

Rossi berkompetisi di kejuaraan dunia balap motor grand prix sedari 1996. Sejauh ini rider 37 tahun itu sudah meraih sembilan titel dalam ketiga kelas, dengan tujuh di antaranya di kelas primer. Tak kurang 114 kemenangan seri balapan ia catatkan, cuma kalah banyak dari rider Italia lainnya, Giacomo Agostini (1964–1977). “Sayang sekali buat para rider Italia karena penampilan kami dengan cepat jadi dinomorduakan (dibandingkan Rossi,red). Semua orang cinta Valentino. (Tapi) Jika seorang rider cukup cepat maka Anda bisa saja jadi figur yang diidolakan sejumlah penggemar. Untuk alasan itulah saya ingin lebih kencang dan sedekat mungkin dengan Valentino. Karier kami berbeda. Saya sendiri punya target, tidak meraih sembilan titel seperti dirinya melainkan meraih kemenangan dulu. Setelah itu kita lihat saja bagaimana selanjutnya," tuturnya.

Petrucci akan menjalani musim keenamnya di MotoGP pada tahun 2017 ini. Sejauh ini rider berusia 26 tahun itu belum berhasil meraih satu pun kemenangan dalam seri balapan, dengan finis terbaik pada posisi dua di Silverstone 2015.

Salah satu rookie di MotoGP 2017 nanti, ada lagi nama Sam Lowes. Lowes mengaku harus beradaptasi secara sempurna dengan gaya membalap di sana. Pada dua tahun terakhir Lowes berkompetisi di Moto2 setelah pergi dari World Supersport Championship. Lowes akan mengendarai Aprilia pada musim perdananya di MotoGP dan angkat bicara soal itu. “Hal terpenting adalah saya tak perlu mengendarai motor Moto2 saat ini. Di Valencia, saya fokus mencoba Aprilia dengan cara yang benar. Sebelumnya saya melakukan banyak aksi. Tidak salah, tapi terlalu bergaya Moto2," ujarnya kepada Autosport.

Lowes memastikan gaya membalapnya sudah sangat dekat dengan yang diinginkan. “Sekarang saya sudah mulai mengubah gaya mengendarai motor. Tak apa mengalami satu langkah mundur demi dua langkah ke depan. Kami memiliki banyak waktu untuk berkembang dan pada akhirnya kami akan mencapai yang diharapkan,” ungkapnya.

Kedatangan Jorge Lorenzo ke Ducati bakal mengubah peta kekuatan pada musim depan. Ducati sendiri tengah membaca situasi tersebut dan mencoba meraih gelar juara. Musim depan, memang cukup dinantikan persaingannya. Sebab, banyak situasi berganti, mulai dari kepindahan pembalap ke tim lain, sampai teknologi anyar yang diterapkan para pabrikan.

Hal ini coba dimanfaatkan Ducati. Pabrikan Italia tersebut mengusung target tinggi setelah merekrut Lorenzo. "Kami mengontrak pembalap dengan tiga gelar juara dunia. Pasti Anda akan tahu maksud kami. Tentu kami membaca situasi untuk bisa merebut gelar juara," kata Manajer tim Ducati, Davide Tardozzi, dikutip GPOne.

Kendati begitu, Tardozzi tak mau menganggap remeh pesaingnya. Bahkan, Suzuki-pun dianggap bisa saja menyulitkan untuk mewujudkan target tersebut. "Para kompetitor banyak melakukan perubahabn. Contohnya Suzuki, mereka punya (Andrea) Iannone, yang merupakan pembalap paling kami hormati," tandas dia. (cak/ies/rap/JPG/dts/sua.c)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%