Kebut Bangun Arena Asian Games

Juni Ditarget Beres Sebagian

Selasa, 21 Maret 2017 | 09:10
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - Pembangunan arena pertandingan Asian Games (AG) 2018 sedang dikebut. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU Pera) menargetkan sebagian arena bisa diresmikan pada Juni tahun ini untuk persiapan uji laga. Rencananya, AG mulai digulirkan pada 18 Agustus 2018.

Siang kemarin (20/3), Menteri PU Pera Basuki Hadimuljono melaporkan progres pembangunan arena kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga menjadi ketua tim dewan pengarah AG 2018. Basuki menuturkan KemenPU Pera mendapatkan tugas untuk mengerjakan pembangunan di tiga lokasi. Yakni kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Kemayoran, dan Jaka Baring.

Total anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 6,747 triliun dengan nilai kontrak Rp 5,579 triliun. Pembangunan di GBK dianggarkan Rp 2,009 triliun, Kamayoran (Rp 3,642 triliun), dan Jakabaring (Rp 369 miliar). Yang paling menunjukan perkembangan fisik paling tinggi adalah pembangunan di Kemayoran 65,66 persen. Disusul kompleks Jakabaring 46,89 persen dan GBK baru selesai 32,52 persen.

Arena yang dibangun di GBK diantaranya stadion utama GBK, fasilitas latihan, stadion aquatic, lapangan hoki, sepak bola, lapangan panahan, tenis indoor dan outdoor, istora senayan, gedung basket, lapangan baseball, serta lapangan softball. Di Kemayoran ada pembangunan dua blok wisma atlet dengan total 10 rusun. Sedangkan di Jakabaring ada pengerjaan wisma atlet, danau dayung, dan renovasi shooting range.

Basuki menuturkan pengerjaan arena itu ada yang ditargetkan selesai pada Juni 2017 seperti lapangan hoki, sepak bola, panahan, dan tenis indoor dan outdoor. Begitu pula rumah susun juga ada yang ditargetkan selesai. ”Juni ini sudah ada (rusun) yang selesai khususnya yang 18 lantai untuk bisa dimanfaatkan pada tes event nanti, pada Agustus atau sept 2017,” ujar dia.

Wakil presiden Jusuf Kalla, menurut Basuki, juga akan melihat langsung pembangunan arena pada akhir pekan ini. kompleks yang dikunjungin antara lain GBK, Kemayoran, dan velodrome di Rawa Mangun. Khusus velodrome dikerjakan oleh pemprov DKI Jakarta. ”Beliau (JK, red) tanya ada kendala-kendala? menurut kami, tidak ada. Semua sudah on place,” tambah dia.

Basuki mengungkapkan selain mengerjakan tiga kompleks tersebut, Kemen PU Pera juga sedang mengerjakan arena jetski dan layar di Ancol serta parkir dan hutan kota di GBK. mereka telah mengalokasikan Rp 250 miliar dari dana KemenPU PR untuk menuntaskan proyek tersebut. ”Akan dikerjakan pada tahun ini,” tambah dia.

Selain di Jakarta dan Palembang, Asian Games 2018 juga akan mengambil tempat di Pelabuhan Ratu untuk selancar. Basuki sudah bicara dengan Pemprov Jawa Barat untuk memastikan kesiapan lokasi tersebut. ”Kira sudah dipakai untuk PON kemarin, sehingga pak Wagub (Wagub Jawa barat Deddy Mizwar, red) waktu ikut rapat kemarin menyatakan sudah siap,” ungkap Basuki.

Wacanakan Jumlah Ideal 39 Cabor

Pada rapat konsolidasi di Kemenpora pekan lalu (15/3), Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah meminta agar cabor di Asian Games, dari yang sebelumnya 42, disesuaikan dengan Incheon 2014, dengan jumlah maksimal 37 cabor, dengan alasan efisiensi anggaran.

Nah, menurut Wakil Direktur Departemen Olahraga Inasgoc, Lukman Niode, permintaan JK, sapaan akrab Jusuf Kalla tersebut tidak memperhitungkan satu hal. Yakni, adanya beberapa cabor baru yang bakal dimasukkan kedalam cabor wajib Olimpiade. ”Waktu Incheon, ada 28 cabor Olimpiade. Untuk tahun depan ada 33,” ujar Lukman ketika ditemui di Gedung PP-ITKON Kemenpora, kemarin (20/3).

Kelima cabor baru yang rencananya bakal menjalani debut di Olimpiade Tokyo 2020 adalah Karate, Panjat Tebing, Softball-Baseball, Skateboard, dan Selancar. Nah, jika cabor Olimpiade saja sudah 33, secara otomatis Indonesia harus memilih 3-4 cabor lagi untuk menggenapi kuota Incheon, seperti yang diminta oleh JK.

Nah, disinilah masalahnya. Luki, sapaan akrab Lukman menjelaskan, tiga cabor pilihan Indonesia yang sudah mendapat approved sports, Jetski, Bridge, dan Paragliding, tidak mungkin bisa diganggu gugat. ”Sebab, ini merupakan bargaining Indonesia,” ujar Lukman. Karena itu, opsi yang bisa diambil adalah dengan menelaah cabor yang masuk kategori sekunder, alias rekomendasi OCA (Dewan Olimpiade Asia).

Cabor yang masuk kedalam rekognisi OCA, karena dianggap merepresentasikan Asia antara lain Squash, Pencak Silat, Wushu, Kabbadi, Kriket, maupun Sepak Takraw. Lukman menjelaskan, selain cabor rekognisi OCA, ada lagi cabor Olimpik yang saat ini tengah booming di Asia, dan memiliki bisnis branding yang bagus. Seperti Hoki Lapangan, Rugby 7s, dan Handball. Dari daftar tersebut, Lukman menyatakan bahwa 39 bakal menjadi jumlah ideal, jika mempertimbangkan efisiensi anggaran, seperti yang diutarakan JK.

Kalau bisa memangkas cabor hingga sejumlah yang diperhitungkan Lukman, setidaknya Indonesia bisa mengurangi jumlah partisipasi atlet sesuai dengan Incheon, yakni 9.500 orang. Tantangannya, Indonesia harus bisa menyosialisasikan ide baru tersebut kepada 45 negara anggota OCA. Lukman, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua 1 Satlak Prima berujar bahwa delegasi Inasgoc bisa mempresentasikannya di dua Pertemuan Tahunan OCA. Untuk wilayah Timur, digelar di Incheon 25 Maret mendatang. Sedangkan wilayah Barat dilaksanakan di Muscat, Oman, empat hari berselang (25/3).

”Harapannya, sebelum CdM (Chef de Mission) Seminar Agustus nanti,” tutur pria yang juga legenda renang Indonesia tersebut. Apakah nantinya pengurangan cabor itu bakal mereduksi peluang emas Indonesia? Tidak jika merunut pernyataan Komandan Satlak Prima, Achmad Soetjipto. Pak Tjip, sapaan akrab Soetjipto, menjelaskan bahwa Prima telah memetakan setidaknya 20 cabor yang dianggap berpotensi emas. ”Tetapi, saya tentu tidak bisa mengatakan,” seloroh Soetjipto. ”Ini kan namanya sport intelligence,” kelakarnya. (jun/apu)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%