PBSI Penuhi Panggilan Kemenpora

Selasa, 06 Juni 2017 | 11:54
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo

INDOPOS.CO.ID - Kegagalan Indonesia pada Piala Sudirman 2017, menuai perhatian tegas dari pemerintah. Untuk kali pertama, langkah Indonesia harus terhenti di fase grup. Padahal, pada edisi-edisi sebelumnya, Indonesia selalu lolos dari babak penyisihan.

Setelah sempat tertunda satu minggu, PP PBSI akhirnya memenuhi panggilan Kemenpora untuk mengevaluasi prestasi mereka usai gagal di turnamen beregu campuran itu. Bertempat di kantor Kemenpora, pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Menpora Imam Nahrawi.

Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto mengatakan bahwa pihaknya telah mengungkapkan alasan kegagalan mereka di ajang tersebut.–sapaannya- juga sudah meminta maaf dan berjanji untuk segera melakukan evaluasi internal di tubuh PP PBSI. Dirinya mengatakan, sesungguhnya PBSI sudah melakukan persiapan maksimal sebagaimana di event-event internasional lainnya. Terlebih, Indonesia memiliki misi besar tersendiri yaitu memboyong kembali Piala Sudirman.

“Intinya, hasil kemarin benar-benar di luar ekspektasi kami. Pemain-pemain yang diandalkan untuk bisa mencuri poin malah meleset dan kalah. Padahal, kami sudah memperhitungkan kondisi pemain, track record mereka, dan peringkat pemain. Dan mereka itulah yang kami anggap paling siap terjun,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kabidbinpres PP PBSI Susi Susanti menjelaskan bahwa setelah takluk 1-4 oleh India, tim pelatih pun sempat mengubah strategi saat menghadapi Denmark. Strategi itu pun berhasil. Indonesia unggul atas Denmark 3-2. Namun, hasil itu belum bisa membuat Indonesia berhak lolos ke babak selanjutnya. “Saya bisa mengerti, tekanan anak-anak di sana sangatlah besar. Terbukti saat pemain kita banyak yang membuat kesalahan sendiri. Maklum saja, kami juga sedang masa tahap transisi regenerasi. Semua kan butuh proses,” ujar peraih emas Olimpiade Barcelona 1992 itu.

Ia mengatakan, Piala Sudirman hanyalah salah satu jembatan Indonesia menuju kejuaraan yang menjadi fokus utama skuad Merah Putih saat ini, yaitu SEA Games dan Asian Games. Ia juga sudah menegaskan kepada tim pelatih dan para pemain agar melupakan kekalahan lalu.

“Yang sudah ya sudah. Masih ada turnamen-turnamen lain seperti Indonesia Open, Thomas-Uber, dan SEA Games. Puncak kita memang di Asian Games karena Indonesia menjadi tuan rumah. Kami tentu tidak ingin malu di rumah sendiri,” tegas Susi.

Evaluasi kegagalan Indonesia tersebut ditanggapi oleh legenda bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata. Peraih emas All England 1972 itu mengatakan bahwa kunci kekalahan Indonesia terletak pada kesalahan susunan pemain. “Saat melawan India, sebenarnya Indonesia punya potensi di empat nomor. Di atas kertas, semuanya harusnya bisa, kecuali tunggal putri. Tapi semuanya berbalik. Padahal, menghadapi India adalah sebuah pertandingan krusial saat itu,” katanya.

Dia juga menyoroti keputusan tim pelatih menurunkan Della Destiara/Rosyita Eka di pertandingan terakhir. Menurutnya, Greysia Polii dirasa jauh lebih berkompeten di sektor tersebut. Ia menambahkan, pelatih juga harus sudah mengetahui karakteristik setiap pemainnya. Apalagi, dalam turnamen beregu, Indonesia membutuhkan tipikal pemain yang berani menyerang.

“Harusnya, mereka menurunkan pemain kunci di pertandingan akhir. Jadi, bagaimanapun masih bisa memberikan perlawanan. Seharusnya pelatih sudah memikirkan hal itu,” ucapnya tegas. “Menurut pengalaman saya, prinsip pertandingan beregu itu ada dua. Di partai yang punya peluang menang, jangan sampai kecurian. Dan di partai yang diperkirakan lemah, justru harus bisa tampil mengejutkan dengan curi poin,” pungkasnya. (bam/tif)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%