Indonesia Open Superseries Premier 2017

Target Terpenuhi, JCC Bisa Jadi Alternatif

Senin, 19 Juni 2017 | 12:38
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Sekjen PP PBSI, Achmad Budiharto (kiri) bersama Event Manager BWF, Darren Parks pada jumpa pers usai pelaksanaan turnamen BCA Indonesia Open Superseries Premier 2017 di Jakarta Convention Center, Minggu (18/6) malam.

INDOPOS.CO.ID - Berakhir sudah turnamen yang menawarkah total hadiah US$ 1 juta, BCA Indonesia Open Superseries Premier 2017. China menjadi negara tersukses dengan berhasil membawa pulang dua gelar, sementara itu, India, Jepang dan Indonesia masing-masing berhasil membawa pulang satu gelar. Kemeriahan di Plenary Hall Jakarta Convention Center yang dimulai sejak Senin (12/6) lalu, berakhir pada Minggu (18/6) malam.

“Kami bersyukur bahwa pelaksanaan turnamen bisa berjalan dengan lancar dan sukses dan tidak ada sesuatu kendala berarti. Dari awal kami sudah berupaya untuk memindahkan venue dari Istora ke JCC, sempat ada kendala di beberapa hari awal tetapi semuanya bisa diatasi,” ujar Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Sekjen PP PBSI, Achmad Budiharto.

Kesuksesan turnamen ini digelar di JCC pun diungkapkan bisa menjadi pertimbangan, jika di tahun depan, Istora masih belum siap digunakan untuk Indonesia Open 2018. “Sangat memungkinkan, tahun depan ada dua turnamen besar. Ada premier of premier di awal bulan Juli, kandidat utamanya tetap berharap bisa menggunakan Istora. Tapi belum tahu apakah kita akan mendapat izin atau tidak, JCC bisa menjadi salah satu cadangan. Tetapi ini bukan hal mudah untuk menaklukan JCC menjadi venue ideal buat bulu tangkis. Butuh kerja keras yang luar biasa, beberapa masukan menjadi mention tersendiri untuk kami, dan semoga ini yang pertama dan terakhir kita menggelar turnamen di bulan Puasa,” lanjut Achmad.

Kesuksesan panitia penyelenggaraan juga mendapat apresiasi dari Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). “Pemindahan venue dari Istora ke JCC memang tidak mudah. Ini menjadi tantangan tersendiri, dan PBSI bersama panitia pelaksana berhasil  mengatasi hal ini. Banyak hal yang harus kami setujui seperti keadaan AC. Jadwal yang berubah karena bulan ramadhan, dan tentu pemain inginnya bisa selesai lebih awal, kami mengerti isu ini. Tetapi turnamen ini sendiri, Indonesia tidak pernah berhenti membuat saya kagum. Dengan orang-orang yang sangat mencintai bulu tangkis, dan tahu bagaimana semua harus berjalan, orang-orang yang ramah dan kami senang bisa bekerja dengan mereka. Hasil akhir pun menarik, setelah Olimpiade memang banyak yang berubah, dan saya bisa melihat banyak pemain baru pun bermunculan,” ujar Event Manager BWF, Darren Parks.

Dari segi prestasi, Indonesia pun berhasil memenuhi target untuk bisa mencuri gelar di turnamen ini. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil menjadi juara setelah menang 22-20 dan 21-15 atas Zheng Siwei/Chen Qingchen pada Minggu (18/6) malam.

“Untuk atlet, kita memang menargetkan satu gelar, dan bisa tercapai. Tontowi/Liliyana akhirnya bisa juara, dari segi pembinaan dan regenerasi menjadi catatan penting untuk kita semua karena kita masih bertumpu pada pemain senior, kami sempat berharap muncul beberapa pemain baru. Kami sempat berharap pada pasangan Fajar/Rian bisa berbuat lebih, tetapi ternyata belum bisa mengatasi tekanan, mereka masih butuh pengalaman dan jam terbang lebih untuk bisa berhasil masuk ke level yang lebih tinggi,” pungkas Achmad. (rmn)

Editor : Ali Rahman
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%