Argentina Belum Maksimal, Sampaoli pun Merana

Kamis, 07 September 2017 | 11:25
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Pelatih Argentina, Jorge Sampaoli.

INDOPOS.CO.ID - Konfigurasi persaingan menuju Piala Dunia 2018 zona Conmebol masih ketat. Sampai dengan matchday ke-16, Rabu (6/9), belum ada tambahan wakil dari Amerika Latin selain Brasil yang mengunci tiket tampil di Rusia.  Uruguay dan Kolombia meraih hasil positif yang membuat keduanya bertahan di tiga besar. Uruguay menang tipis 2-1 atas Paraguay di Estadio Defensores del Chaco, Asunción.

Kemudian Kolombia sukses memutus sembilan streak kemenangan Brasil di ajang kualifikasi Piala Dunia 2018 dengan menahan imbang 1-1 di Estadio Metropolitano Roberto Meléndez, Barranquilla. Argentina serta Cile terganjal jalannya. Argentina harus puas ditahan imbang 1-1 oleh tim jurukunci Venezuela di Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti.  Sedang Cile menyerah 0-1 di tangan Bolivia di Estadio Hernando Siles, La Paz. Kekalahan kemarin membuat Cile terlempar ke posisi enam klasemen serta kansnya hadir di Rusia tahun depan menipis.

Melihat tradisi kelolosan negara-negara dari zona Conmebol ini kalau ditengok dua edisi Piala Dunia sebelumnya, 2010 dan 2014, Uruguay mengalami kemajuan signifikan. La Celeste di 2010 dan 2014 selalu lolos lewat jalur play-off interkontinental.  Lantas Cile juga punya tradisi lolos di dua Piala Dunia terakhir. Sedangkan Ekuador, Kolombia, dan Paraguay silih berganti memenuhi kuota menggenggam tiket Piala Dunia. 

Nah, kegagalan menang Argentina kemarin atas Venezuela membuktikan kalau kualitas antarnegara di Amerika Latin ini tak lagi njomplang. Venezuela bukan lagi lumbung gol buat raksasa-raksasa Amerika Latin.  Hal lain yang bisa digaris bawahi ternyata butuh adaptasi lebih lama bagi sosok Jorge Sampaoli dalam menata permainan Tango. Padahal Sampaoli 'dibajak' dari Sevilla musim panas tahun ini dengan target Argentina ke Rusia secepatnya.

Don Sampa, julukan Sampaoli, menegaskan tak ada kata lain bagi Lionel Messi dkk kecuali habis-habisan di dua laga sisa. Lawan Ekuador di Quito yang merupakan matchday pamungkas Argentina bisa jadi laga yang menipu. Ingat, pertemuan terakhir Argentina versus Ekuador, Argentina kalah 0-2 oleh Ekuador (9 Oktober 2015) di kandang.

 “Kondisinya menjadi lebih rumit bagi kami karena kami mengira akan berada dalam posisi yang lebih baik setelah dua matchday. Namun yang kami dapatkan hanya dua poin dari dua pertandingan,” kata Sampaoli seperti diberitakan Goal kemarin. “Kami sesungguhnya tampil mendominasi namun kami kesulitan memenanginya,” tambah pelatih berusia 57 tahun tersebut.

Messi di mata Sampaoli sudah bermain luar biasa dalam dua matchday bersama Argentina. Sayangnya kebrilianan Messi tersebut tak menghasilkan poin absolut bagi Argentina.   “Kami melewatkan kesempatan menang dengan begitu saja. Saya berdoa supaya kondisi ini tidak membingungkan ataupun menghalangi kemajuan tim ini di masa mendatang,” tutur Sampaoli.

Di sisi lain, pelatih Brasil Tite mengatakan timnya bermain lebih rancak ketimbang saat lawan Ekuador (1/9) lalu. Meski dilihat hasil akhirnya, Brasil terhentikan rekor sembilan kemenangan beruntun di ajang kualifikasi ini.   “Tim ini sudah menunjukkan konsistensi daripada laga sebelumnya. Kalaupun hasil imbang yang kami peroleh, inilah hasil terbaik, dan ingat kami menbuat banyak peluang selama pertandingan,” tutur Tite kepada ESPN.

Sementara itu, pelatih Cile Juan Antonio Pizzi mengatakan seandainya timnya belum kehabisan harapan. Pizzi belum mau mengibarkan bendera putih tanda menyerah.   “Bolivia menekan kami sejak menit pertama pertandingan kemudian mereka mengontrol kami. Kami mencoba melawan akan tetapi Bolivia tak memberi ruang kami balik memanfaatkan situasi,” ujar Pizzi kepada 24 horas. (dra)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%