Dibalik Keputusan Malaysia Hentikan Tuan Rumah F1

CEO SIC: F1 Kehilangan Keseruannya

Sabtu, 30 September 2017 | 14:00
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
BERSAMA BINTANG: Wartawan Jawa Pos Azrul Ananda (dua dari kiri), Candra Kurnia (kanan), dan kontributor Jawa Pos Dewo Pratomo (kiri) bersama Sebastian Vettel

INDOPOS.CO.ID - Selama 19 tahun Malaysia menggelar balapan bergengsi Formula 1 (F1). Musim ini mereka memutuskan menghentikan kontrak sebagai tuan rumah, satu tahun lebih cepat dari rencana. Apa latar belakang di balik keputusan itu? Berikut wawancara eksklusif Jawa Pos dengan CEO Sepang International Circuit (SIC) Dato’ Ahmad Razlan Ahmad Razali.

Selain menurunnya angka penonton, adakah isu besar lain yang membuat SIC memilih menghentikan lebih cepat kontrak sebagai tuan rumah?

Masalah utamanya memang jumlah penonton. Tahun lalu penonton F1 anjlok secara signifikan di semua area. Terendah sepanjang sejarah Malaysia sebagai tuan rumah sejak 1999. Jumlah penonton dari luar negeri sebenarnya stabil, tapi penonton lokal merosot tajam. Hal itu terjadi sejak 2014. Event seperti F1 dan MotoGP harus mendapatkan dukungan besar dari pasar domestik. Jadi, ketika hal tersebut tidak bisa meraup pendapatan yang kami inginkan, sementara biaya penyelenggaraan besar sekali, untuk apa kami pertahankan.

Apakah masalah tersebut terjadi secara global atau spesifik di Malaysia saja?

Untuk tahun lalu, bukan hanya di Malaysia, tetapi di banyak sirkuit lain. Saya tidak tahu tahun ini. Menurut saya, F1 saat ini kehilangan keseruannya. Jika Anda duduk di sini dan menonton balapan, apakah Anda merasa ini adalah balapan yang menarik? Penonton tidak hanya butuh drama di empat sampai lima lap pertama, tapi balapan seru selama 70 lap. Di saat yang sama, kami punya MotoGP yang sangat seru, tiket kami selalu sold out dua bulan sebelum event berlangsung. Orang-orang suka menonton MotoGP karena itu adalah balapan yang serunya gila-gilaan.

Kalau masalahnya penurunan jumlah penonton, rasanya Singapura juga sama. Tapi, mereka tetap survive dan bahkan memperpanjang kontrak hingga 2021?

Saya tidak bisa berbicara atas nama Singapura. Tapi, jika Anda lihat banyaknya kursi yang kosong, saya yakin di sana juga menghadapi masalah yang sama. Singapura adalah kasus yang berbeda dengan kami. Bicaralah dengan penonton di sana, apa yang mereka cari di Singapura? Apakah mereka bicara tentang Lewis? Atau Sebastian? Mereka berbicara tentang Calvin Harris, mereka bicara tentang konser. Jadi, mengapa kami tidak membuat festival musik saja?

Apakah kali ini masih akan tetap mempertahankan tradisi balapan yang kuat?

Kami tidak mendatangkan artis-artis internasional untuk menarik penonton. Sebab, F1 adalah tentang balapan. Kalau kami sudah menurunkan harga tiket sampai 82 persen (akhir pekan ini) dan kami tidak bisa menjual habis tiket itu, kami mau bilang apalagi? Jangan katakan kami harus menurunkan harga tiket sampai RM 200 (sekitar Rp 650 ribu) supaya orang beli tiket. Harga tiket itu hanya sedikit lebih mahal daripada tiket MotoGP.

SIC sempat bernegosiasi dengan manajemen F1 yang lama di bawah Bernie Ecclestone. Lalu melanjutkannya dengan pemilik baru Liberty Media. Adakah perbedaannya?

Situasinya memang agak sulit waktu itu. Tahun lalu di Abu Dhabi, Bernie ingin bernegosiasi dengan kami. Lalu, pada Januari atau Februari (2017), dia dilengserkan. Komunikasi kami sebagai promotor F1 selama 19 tahun adalah dengan Bernie. Setelah itu, pemilik baru mengumbar semua sisi negatif F1 di bawah Bernie dan bla..bla..bla.. Mereka terlihat tidak tertarik untuk melanjutkan kerja sama dengan kami dan akhirnya kami memutuskan menghentikan kontrak setahun lebih cepat.

Apa rencana ke depan?

Ya, pertanyaan menarik. Kami punya MotoGP, event terbesar dan terpanjang di Asia sejauh ini, sejak 1991. Jadi, kami sudah punya event besar di sini. Tahun lalu ada lebih dari 90 ribu penonton yang datang. Kami memprediksi 98 ribu sampai 100 ribu tahun ini. Kami mempertahankan ini sampai 2021. Jadi ya, kami sudah punya event jagoan.

Apakah F1 masih masuk pertimbangan?

Orang bertanya apakah akhir pekan ini ada kejutan dari saya (mengubah keputusan untuk melanjutkan kerja sama sebagai tuan rumah). Saya tegaskan di sini bahwa (pekan) ini benar-benar balapan terakhir di Malaysia. Kami benar-benar ingin break. Dan break itu dalam waktu yang lama, minimal lima tahun.

Terakhir, apa pesan Anda kepada F1 Mania di Asia Tenggara karena mereka tak bisa menikmati GP Malaysia lagi setelah ini?

Saya bisa merasakan kesedihan yang dirasakan F1 Mania di Asia Tenggara. Saya rasa ini belum terlambat. Silakan para penggemar F1 di Indonesia, Thailand, Filipina, dan Singapura datang kemari. Mari kita saksikan balapan terakhir yang bersejarah akhir pekan ini. Kami masih punya Singapura (yang menyelenggarakan F1), pertahankan itu. (cak/aza)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%