Catatan Perpisahan F1 Usai Belasan Kali ke Sepang

Grand Prix Bikin Gemar F1

Selasa, 03 Oktober 2017 | 13:55
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
BERMINAT: Balapan Formula One (F1) Sepang, Malaysia, Minggu kemarin, tetap diputuskan menjadi yang terakhir. Malaysia tidak berminat lagi menggelar acara serupa di tahun mendatang.

INDOPOS.CO.ID - Selama 19 tahun penyelenggaraan Grand Prix Formula 1 di Malaysia, saya sudah menjadi saksinya sebanyak 16 kali. Termasuk di event ”F1nale” alias perpisahan, akhir pekan lalu.

 Kalau tidak ada Grand Prix Malaysia, saya mungkin tidak jadi penggemar Formula 1. Aktif bikin acara nonton bareng dan bikin talk show soal F1 saat masih bekerja di radio dulu, keinginan untuk nonton langsung baru tercapai ketika ada Sirkuit Sepang.

Bagi F1, itu adalah balapan Asia kedua setelah Jepang. Bagi penggemar di Indonesia, itu adalah peluang untuk bisa menonton aksi para bintang balap dengan harga relatif terjangkau. Sejak 1999, para penggemar layar kaca bisa lebih mudah menonton langsung mobil Ferrari, McLaren, dan lain sebagainya.

Saya sendiri baru bisa pergi pada 2001, ikut menemani rombongan F1 Mania Surabaya nge-tour ke Sepang. Dasar rezeki anak saleh, kemudian saya jadi kenal barisan manajemen Sirkuit Sepang. Ikut membantu program promosi mereka di Indonesia.

Tahun demi tahun, saya datang sebagai penonton. Duduk di berbagai tribun sirkuit. Termasuk dapat kesempatan duduk di tempat-tempat VIP, bahkan sekali pernah nonton dari kantor pucuk pimpinan sirkuit (di lantai atas bangunan, bisa melihat sekeliling lintasan). Bertahun-tahun saya menulis pengalaman nonton di Sepang. Mulai jadi penonton hingga berkali-kali sebagai ”penyusup” masuk ke paddock.

Paling seru waktu masuk pura-pura jadi pengantar makanan. Dasar nasib, hujan deras turun. Semua pakai jas, sehingga sulit membedakan siapa pakai ID atau tidak. Saya pun jalan ke pinggir lintasan, beraksi memotret bersama para wartawan foto resmi. Sayang waktu itu ilmu memotret saya belum canggih. Semua jadi mobil hantu alias tidak jelas.

Baru pada 2010, saya bisa masuk paddock dengan lebih ”gagah”. Dengan ID card resmi, sebagai peliput mewakili Jawa Pos. Teman-teman saya di sirkuit tertawa melihat kegagahan itu. ”Dewo! Akhirnya kamu legal!” ucap salah seorang manajer Sepang waktu itu.

Menjadi wartawan sekaligus F1 Mania ternyata sangat berat. Kepala terasa mau pecah jadi dua. Satu cari berita dan foto, satu lagi pengin nguber para pembalap. Ngeluuuu (pusing).

Saya ingat betul, waktu itu saya memilih memotret dari tikungan yang paling dekat jaraknya dengan mobil. Selain memotret, mata saya manjakan melihat dari dekat aksi mobil, lengkingan mesin, dan decitan ban. Bau knalpot sangat menyengat, terpadu satu dengan bau karet ban yang panas terkikis aspal. ”Aromaterapi termahal,” tulis saya waktu itu.

Dalam pengalaman tersebut, ada teman saya yang mengabarkan. Dia melihat layar komputer, bahwa foto saya masuk salah satu website F1 paling utama. Waktu itu saya sedang minta tanda tangan Michael Schumacher. ”Waduh, ketahuan deh. Di sirkuit tidak melulu kerja, tapi juga nyeper cari tanda tangan…” pikir saya waktu itu.

Luar biasa memang kalau mengenang pengalaman saya dengan Sepang. Bagaimana tidak, hingga 2017 ini, sudah 16 kali saya hadir di sana. Saya melihat betul bagaimana evolusi grand prix di sana. Ketika lomba 2017 ini dinyatakan sebagai yang terakhir, penyelenggara menyebut penyebabnya adalah minat yang menurun. Khususnya dari warga Malaysia sendiri. (aza)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%