Songsong Kejuaraan Dunia Junior, Bulutangkis Indonesia Hanya Incar Satu Gelar

Kamis, 05 Oktober 2017 | 11:01
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - Kesempatan emas menjadi tuan rumah World Junior Badminton Championship 2017 harus bisa dimanfaatkan oleh pebulutangkis muda Indonesia untuk meraih prestasi maksimal. Paling tidak, mengamankan satu gelar dari enam medali emas yang diperebutkan. Ajang tahunan tersebut bakal berlangsung di GOR Amongrogo, 9-21 Oktober 2017.

Asumsi ini sejalan dengan targhet PP PBSI. Induk organisasi bulutangkis di tanah air ini menargetkan satu gelar dari pasukan muda Indonesia. Kabidbinpres PP PBSI Susi Susanti menerangkan, ia memberikan kebebasan kepada pebulutangkis Indonesia untuk mendapatkan gelar dari nomor mana saja. "Paling tidak hasil Asia Junior Championship sebelumnya jadi patokan," terang legenda hidup tunggal putri Indonesia itu di Jakarra, Rabu (4/10).

Pada AJC 2017 lalu, Indonesia mendulang satu gelar via Rehan Naufal/Kusharjanto/Siti Fadia Silva di ganda campuran. Sedangkan di nomor beregu, Indonesia saat itu kalah dari Korea Selatan di babak final.

Indonesia harus bisa bersikap realistis dan masih bisa bersaing dengan negara Asia lainnya. Di nomor beregu, misalnya, Susi juga menyebut nomor ini juga punya kans besar untuk Indonesia. Dalam seeding, Indonesia menempati urutan kedua setelah Korsel.

"Realististis minimal semifinal dulu, tetapi namanya, target tetap harus juara. Yang penting, step by step," urai Susi.  Esok, Kamis (6/10), para pemain berangkat ke Jogjakarta selanjutnya baru tampil dua hari berikutnya. Pada Kejuaraan Dunia junior kali ini, Indonesia juga menerapkan kebijakan bermain rangkap buat para pebulutangkis muda.

Nomor ganda jadi acuan para pemain yang bermain rangkap. Juara ganda campuran AJC, Fadia, misalnya, juga turun di dua nomor sekaligus. Ganda campuran dan ganda putri. Pada ganda putri, Fadia tampil bersama Agatha Imanuela. "Ini bagus buat pemain muda agar mereka bisa mendapatkan pengalaman sebelum naik ke jenjang senior," lanjut Susi.

Sementara itu, Nova Widianto, pelatih ganda campuran menerangkan bahwa kebijakan tersebut bukannya tanpa alasan. Faktor fisik dan pengalaman menjadi alasan utama untuk pemain Indonesia agar diberikan kesempatan tampil rangkap. "Selain itu juga untuk alas am strategi," kata Nova.

Dia mengakui bahwa persaingan nomor beregu saat ini memang lebih ketat dengan Korsel. Namun, karena title turnamen Kejuaraan Dunia, tim dari Eropa seperti Denmark  juga bisa menjadi ancaman yang lain. (nap)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%