Nepotisme di Balik Kegagalan Timnas Italia

Empat dekade belum pernah melatih tim besar Ventura tiba-tiba mendapat tugas memimpin Italia

Selasa, 14 November 2017 | 21:25
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Pelatih Timnas Italia, Giampiero Ventura


INDOPOS.CO.ID - Sudah dua tim raksasa Benua Biru absen di perhelatan Piala Dunia 2018. Setelah Belanda gagal tampil, kini Italia bernasib serupa dengan sang tetangga.

Gli Azzurri harus menelan pil pahit gagal tampil di perhelatan Piala Dunia tahun depan . Italia kalah dalam agregat dari Swedia dengan skor 0-1, setelah di leg kedua Italia bermain imbang tanpa gol .

Pertama kali dalam kurun waktu 60 tahun, Italia absen dalam Piala Dunia. Tim Negeri Pizza terakhir kali gagal ke Piala Dunia pada 1958 .  

Buntut dari rapor ‘kebakaran’ ini, pelatih Italia, Giampiero Ventura menjadi sasaran kritik. Gagal menuju Rusia semakin mempertegas spekulasi, unsur nepotisme kental dengan keputusan FIGC menunjuk Ventura sebagai allenatore tim.

Padahal, Italia memiliki stok pelatih berkualitas .Musim lalu, tiga dari lima liga terbesar di Eropa dimenangkan oleh pelatih Italia. Mulai dari Massimiliano Allegri (Serie A), Antonio Conte (Premier League) dan Carlo Ancelotti (Bundesliga).

Fakta lain, empat pelatih Italia telah sukses memenangkan Premier League (kompetisi paling bergengsi) dalam tujuh tahun terakhir.

Gambaran ini menjadi bukti, Italia punya banyak pelatih  berkelas.  Dan, Ventura jelas-jelas bukan opsi tunggal Federasi sepak bola Italia (FIGC). Selain karena faktor usia, 69 tahun, sepak terjang Ventura sebatas sepak bola amatir. Selama empat dekade terakhir, Ventura belum pernah memegang klub besar!.

Lalu, bagaimana mungkin ini terjadi? Ternyata, Ventura memiliki kedekatan dengan Presiden FIGC, Carlo Tavecchio (70 tahun). Nama terakhir adalah sosok rasis di Italia da  menyebut pemain Lazio, Joseph Minala:

"Dia makan pisang dan sekarang jadi pemain utama Lazio".

Seakan kebal hukum, Tavechhio melenggang dan kembali terpilih menjadi Presiden FIGC untuk 2 periode ada 2014. Dia juga mendapat pembelaan dari sang sahabat, Adriano Galliani (mantan CEO AC Milan) .

Galliani pasang badan ata ucapan Tavecchio. Dia menyebut, ucapan itu cuma sekadar lelucon. Jangan terkejut dengan aksi saling bela, karena mereka memang satu geng.

Sepak bola Italia perlu revolusi. Orang-orang  Tavecchio dan Ventura harus out dari  Gara-gara mereka, sepak bola Italia berantakan. Banyak stadion kosong dan tindakan rasis dari fans bebas dari  hukuman. Pemain-pemain muda Italia mandek. Klub-klub terbesar Serie A saat ini. Napoli kalah 1-2 dari Manchester City di Liga Champions, hanya memainkan satu starter orang Italia.

Bahkan Juventus, selama ini identik dengan Gli Azzurri, hanya memainkan tiga pemain asli Italia saat menghadapi Sporting. Tiga pemain itu sudah termakan usia seperti Gianluigi Buffon (39 tahun), Andrea Barzagli (36) dan Giorgio Chiellini (33).

Editor : Redjo Prahananda
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%